Loading...

ADMINISTRATOR Rabu, 20 MARET 2024 564 Kali

Ramadhan, Kenapa Ada Perang Takjil ?


Apa itu Takjil ? Takjil diserap dari Bahasa Arab ‘ajila yang memiliki arti menyegerakan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Takjil diartikan mempercepat. Takjil yang dalam Bahasa Arab diartikan menyegerakan atau mempercepat di Indonesia ditransformasikan secara istilah yang dimaksudkan Takjil yakni mempercepat berbuka puasa.

Karena konsepnya untuk menyegerakan berbuka puasa dan dilanjutkan sholat magrib maka Takjil adalah “kudapan” atau makanan kecil. Takjil generasi awal menu kudapan seperti Kurma, Kue atau Kolak ditambah teh manis atau kopi. Seiring perkembangan kuliner takjil kina hadir dalam ragam panganan.

Ramadhan 2024 jagad media sosial kita dipenuhi informasi dan konten “War Takjil” antara pemeluk Islam dan Nonis. War Takjil atau Perang Takjil awalnya disebut “Ngabuburit” lalu menjadi “Berburu Takjil” dan sekarang menjadi “Perang Takjil”.

Perubahan dari Ngabuburit ke Berburu Takjil dan Perang Takjil terjadi karena banyaknya peminat takjil sementara jumlah takjil sangat terbatas. Menu takjil dewasa ini bukan lagi lapak untuk muslim yang berpuasa saja tetapi juga non Islam. Ditangan Gen Z pertarungan antara orang Islam yang berpuasa versus orang non Islam dalam mencari takjil disebut “War Takjil atau Perang Takjil” yakni ade kecepatan dan ketepan mendapatkan takjil.

Kenapa ada perang takjil ? Takjil berbeda dengan makanan lain yang dijual sore sampai petang hari. Rasanya berbeda. Takjil dibuat saat Ramadhan dengan suasana sosiologis, harapan dan kebatinan yang berbeda pada bulan yang lain. Beberapa alasan berikut ini membuat takjil laris dan memicu Perang Takjil.




Pertama, Penyedia takjil berharap Ridhol ALLAH SWT. Sebelum berdagang dengan manusia para penjual takjil lebih dahulu berdagang dengan ALLAH SWT, Mereka menjual takjil yang baik dengan niat mendapatkan pahala dan doa orang yang berpuasa sebagaimana hadist popular yang diriwayatkan At-Tirmidzi.

Kedua, Takjil yang dibuat atas nama cinta kepada keluarga. Saat Ramadhan ramai banget Emak-emak berjualan takjil. Selain menyediakan menu berbuka keluarga tercinta kelebihan menu berbuka dijual depan rumah sebagai takjil. Makanya jumlah takjil yang dijual juga tidak banyak. Misalnya ada 5 orang di rumah, kelebihan Kolak, Gorengan, dan Kue Lapis dijual Emak depan rumah. Tentunya keuntungan juga tidak seberapa hanya untuk memutar keuangan Emak.

Ketiga, Pedagang takjil atas nama ibadah dan persaingan juga menjaga kualitas takjil. Memang ada pedagang kuliner yang juga berjualan takjil. Pedagang kuliner yang memanfaatkan momen Ramadhan harus menghadirkan kualiatas takjil terbaiknya karena persaingan sesama pedagang kuliner juga persaingan dengan Emak-emak yang masak rumahan.

Keempat, selama Ramadhan segala resep masakan berbuka dijajankan. Kita dengan mudah menemukan segala macam Kolak dari pisang, labu, kacang dan seterusnya begitu juga aneka gorengan, beragam kue, dan aneka es buah. Seluruh kehebatan memasak dipasarkan sebagai takjil. Hal ini dilakukan untuk menarik minat orang yang berpuasa.

Dan Kelima, beragam kuliner dengan konsep kudapan sehingga kita dapat menikmati Kolak, Es Buah, Gorengan dan Kue dalam satu tarikan nafas tanpa kekenyangan.. Umat nonis juga terpuaskan kerinduannya untuk memanjakan lidahnya dengan aneka macam kudapan. Ada aneka macam kolak, beragam jenis kue, es campus dengan warna dan tekstur yang menggoda, serta gorangan dengan kualitas rumahan.

Lidah siapa yang bisa dibohongi, mau puasa atau tidak berpuasa sama ngilernya juga. Yang tidak fear memang nonis memiliki keluasan waktu untuk berbelanja. Meminjam istilah Gan Z, disaat muslim lagi “koma” ruh masih belum berpijak, pukul 15.00, saat lapak takjil baru dibuka disitulah nonis memulai “Perang Takjil”nya. Puasa juga menguji kesabaran, termasuk kesabaran muslim memulai “Perang Takjil”nya pukul 16.30.

Jika anda bertanya Perang seprti apa yang dilakukan dengan penuh toleransi kemanusiaan maka Gen Z menjawabnya dengan “Perang Takjil Ramadhan 2024”. Selamat berbuka puasa, terimakasi seluruh yang telah berbelanja takjil, membantu dan menggerakan ekonomi masyarakat. Ulasan ini hanya merespon kemeriahan Ramadhan 2024 dengan “War Takjil”nya.


Kembali
© Taman Sari Jakarta, All Right Reserved.